.

 

Toleransi dan Empati

toleransi00

Kita sebagai mahluk sosial yang berada di tengah masyarakat selalu diingatkan untuk bertoleransi dan empati terhadap sesama.
Yang mungkin pernah muncul dalam benak kita adalah, mengapa kita harus selalu bertoleransi dengan orang lain, sementara orang lain banyak yang tidak peduli dengan kita, atau sering mau menang sendiri, merasa benar, merasa punya hak lebih, dan sebagainya.

Toleransi & Empati di Jalan

Saat berkendara di jalan, kita akan selalu bertemu dengan orang lain yang memiliki berbagai macam kepentingan, tujuan, latar belakang, dan sebagainya. Apapun itu, yang perlu kita lakukan adalah selalu menghargai berbagai macam yang disebut diatas, sehingga apa yang sedang kita lakukan di jalan (mengemudi mobil atau motor) tidaklah mengganggu kegiatan mereka.
Lebih dalam lagi, kita harus benar-benar mampu memperbesar urat sabar kita di jalan, apabila menemui hambatan-hambatan yang mungkin memang mengganggu kegiatan kita sendiri.

Halangan/hambatan yang saya maksud adalah khususnya apabila kendaraan kita terhambat oleh kendaraan non mesin atau pejalan kaki atau gerobak dorong dan sebagainya.

Kita perlu membangun empati terhadap mereka.

Untuk memacu kendaraan kita cukuplah mudah, cukup tekan pedal gas (mobil) atau putar grip gas (motor). Sementara sebaliknya, mereka sudah sangat lelah untuk melakukan kegiatannya. Pedulilah dengan usaha/susah payah mereka.

Akan sangat terpuji jika kita mampu sabar menunggu, sehingga tidak perlu membunyikan klakson apalagi hingga marah-marah.

.

.

.

.

Toleransi & Empati Bertetangga

Begitu juga dalam hidup bertetangga, kita perlu menghargai apapun kegiatan yang ada di lingkungan kita. Kegiatan yang sedang kita lakukan, janganlah mengganggu kegiatan lingkungan kita.

Banyak dan mungkin sudah dianggap biasa terjadi ketika kita sedang istirahat di rumah, tiba-tiba mendengar suara klakson mobil tetangga yang baru pulang.
Klakson tersebut ternyata bermaksud memanggil pembantu rumahnya untuk membukakan pintu pagar. Mengapa orang-orang sekitar itu perlu tahu tiap kali tetangga tersebut pulang dengan klakson kerasnya?

REMOTE/WIRELESS DOOR BELL

Tidak bisa buka pintu pagar sendiri? mungkin ada solusi lain, yaitu turun dari kendaraan dan menekan knob bell rumah…

Masih tidak mau melakukan itu?!!..

Di supermarket atau toko peralatan listrik mulai banyak dijual Remote/Wireless Door Bell. Yaitu bel pintu yang tidak memerlukan kabel penghubung.

.

Jadi remote nya bisa kita bawa simpan di kendaraan kita, ketika sampai dekat rumah, kita bisa mulai menekan remote tersebut.
Jaraknya lumayan jauh, bisa mencapai 100meter!.
Harga remote seperti ini berkisar antara Rp 80.000 – Rp 125.000,-

.

Sehingga, kehadiran kita tidak mengganggu tetangga lain yang mungkin sedang beristirahat.

Dengan demikian, kita sudah menerapkan Toleransi dan Empati dimulai dari diri kita sendiri.

Semoga bermanfaat.

19 Responses to Toleransi dan Empati

  1. amin says:

    Tetangga sama mah tiap hari jam 6 pagi hidupin si solarnya sampai asapnya masuk rumah meski sudah pintu dan jendela ditutup. Sampe2 ane nyalain kipas angin ke arah pintu depan. Masak manasin mobil sampai belasan menit bahkan sampai 20 menitan. Tuh mobil bokongnya dihadapin ke jalan. Jadi asapnya keluar merembet ke dinding rumah saya yg kebetulan pas disebelah garasi rumahnya. Tiap hari seperti itu. Ampun2 dah.

  2. cryoptonancurancuran says:

    kalo Gw, biasanya kalo mau nyalip bel klakson 2 kali secara cepet.
    begitu papasan bilang “misi ya Pak / Mas / Bu…”
    biarin deh bibir dower, yang penting ga ada yang merasa dizholimin.

  3. Yoshiro says:

    Yang ini perlu di baca nih sama tetangga2 saya… :nohope… yang tepat di sebelah saya kadang kl weekend pulang jam 2 – 3 pagi dan masih harus klason sekenceng2 nya buat manggil pembantunya…
    Sementara yg di seberang saya 2 – 3 rumah sebelum sampe rumah nya dia dah bunyiin klakson nya…. kereeeeen… setiap kali denger bikin naek darah

  4. Stephen says:

    KEMACETAN DI JAKARTA

    Solusinya:

    1. Penegakan peraturan tanpa pandang bulu. Polisi jangan cuma galak sama pengemudi mobil (salah dikit aja langsung tilang) sedangkan kalau angkutan umum ngetem seenaknya jarang tuh saya liat ada action dari polisi. Mesti dibentuk efek jera bagi pelanggar lalu lintas tapi dengan alasan yang logis tentunya

    2. Perbaikan angkutan umum. Saat ini busway rasanya lebih banyak memindahkan pengguna bus umum, metromini, mikrolet dll ke busway. Tapi belum dapat mendorong pengguna mobil untuk beralih. Lha wong kenyamanannya jauh. Mesti ada solusi terintegrasi. Pengguna mobil bisa dengan nyaman beralih ke angkutan umum

    3. Fasilitas jalan yang diperbaiki (dengan cepat tentunya). Jangan sampai ada jalan yang diperbaiki sebentar trus ngga lama rusak lagi. Perbaikan jalan itu sangat mengganggu kelancaran lalu lintas. Apa ngga bisa dibuat jalan dengan kualitas yang lebih baik. Jangan orientasinya proyek dan proyek lagi

    Semoga berkenan

    • Badur says:

      juga buat pengguna mobil….spy jangan manja, saya kira busway ckp nyaman…hanya pada jam2 tertentu memang desak2an, namanya angkutan umum. Kalo hanya berkendara cm seorang diri, lbh baik pakai kendaraan umum…..buang sifat manja kita dan mau enaknya sendiri. Dengan naik kendaraan umum, banyak sekali yg diuntungkan tidak hanya BBM!

  5. flo says:

    Saya se7 sekali … walau kadang kita diklakson yg di belakang kita …. taat peraturan … peduli penguna lain suatu hal yg langka dan minoritas di negeri ini ….

  6. Sandy says:

    Om yang bikin tiap hari mengelus dada tu angkutan umum yang berhenti dan ngetem seenaknya, gak peduli rambu S, P, gak peduli macet, bahkan petugas pun yang ada di situ tidak peduli seolah tidak melihat….kata orang2 sih karena udah ada setoran uang keamanan.
    Belom lagi motor yang slonang-slonong seenaknya, mobil saya udah 2x kesenggol motor nylonong tuh.
    u/ pemerintah dan aparat harus membuat aturan jalan yang lebih baik, membatasi jumlah kendaraan baik lama maupun baru, memperbaiki angkutan umum serta jalan, ngeluarin SIM super ketat termasuk uji mental ybs (maksudnya waras, sabar, mudah patuh, toleran), adakan pendidikan safety riding, adakan pendidikan safety.
    Saya yakin kalo tu semua dilakukan pihak berwenang, pasti berkendara di jalan akan lebih baik, karena kalau hanya menganjurkan orang menjadi baik di jalan pasti sampai kiamat gak bakalan baik

  7. herry(sci) says:

    Om….Barangkali kalau om pernah dengar “SMITH System”. Sistem ini biasa dipakai diperusahaan minyak. Secara tidak langsung sistem ini juga mengajarkan kesabaran kepada kita, selalu melihat dan memonitor kondisi “sekeliling” mobil kita.

  8. wawan purwanto says:

    Saya sangat setuju om…empati dan toleransi dijalan akan membawa kesejukan buat semua pengguna jalan..rasa sabar menjadi terasah.. minimal kalau ketemu angkutan umum yg ngetem ditengah jalan jadi bisa ngurut dada dululah..nggak langsung gebog..

  9. Taufik Bije says:

    Kapan di bahas soal Angkot yang mangkal n berhenti sembarangan, bro ? hehehee….

    • agus says:

      angkot ngetem harus diberantas!! ngga bisa di klakson doang harus di hajar pengemudinya tuh!!

  10. Harry says:

    Kalau sama kelompok pejalan kaki begini saya masih bisa maklum om.
    Yang bikin gak sabar itu kalau sama metomini yang ngetem, padahal sudah tahu jalanan macet dan jalan cuma 2 jalur.
    Diklakson sampai apa juga gak ngaruh, jadi pingin jewer aja tuh pak sopir yang gak tahu diri …

  11. artikel yang bagus..
    MANTAP!!!

  12. dezig says:

    setuju, kang!

  13. tukang cendol says:

    Like this.. :) :D

  14. zaenale-AXIC2891 says:

    Good article.
    Om, saya sudah praktekkin pakai wireless bell cukup lama, yang sering jadi masalah malah anak saya mainin remote control-nya selama di mobil. Jadi dech batterei cepat habis. zaenale – AXIC 2891

Leave a Reply





Switch to our mobile site

Tips Otomotif saft7.com