.

 

Safety: Bahaya Dari Belakang

jarakaman-00

Hampir di setiap Tips saat berkendara di jalan Tol, kita disarankan untuk selalu menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan kita. Di berbagai kursus Safety Driving, diajarkan untuk memperkirakan jarak aman dengan menggunakan cara sederhana dengan menghitung sekitar 2-3 detik (two-three seconds rules).

Caranya adalah dengan memanfaatkan benda atau tiang yang ada di sekitar jalan Tol tersebut. Ketika kendaraan di depan kita tepat berada di samping melewati tiang, kita mulai berhitung dengan menyebut “satu dan satu, dua dan dua, tiga dan tiga” … hingga tiang itu tepat kita lewati disamping mobil kita. Jika hitungan dua dan dua atau tiga dan tiga adalah tepat tiang tersebut kita lintasi, maka dapat dikatakan jarak kita dengan kendaraan di depan kita sudah dalam jarak aman. Jika kurang dari itu, maka jarak kita masih terlalu dekat dengan kendaraan tersebut, buatlah jarak aman.

Mobil apa yang kita pakai?

Semakin hebat fitur mobil kita khususnya pada perangkat Rem, semakin dapat melindungi atau menghindarkan kita dari kecelakaan yang fatal.

Fitur ABS (Anti-lock Braking System) membantu pengereman menjadi lebih efektif, dengan cara mencegah terjadinya roda mengunci yang membuat mobil seperti meluncur. Dengan ABS, membuat mobil masih bisa diarahkan untuk menghindari benturan dengan benda yang ada di depannya.

Bobot kendaraan juga mempengaruhi jarak pengereman dari suatu kecepatan tertentu. Semakin berat bobot, semakin memperpanjang jarak pengereman.

Sebagai perbandingan jarak pengereman beberapa mobil, dari kecepatan 100km/jam hingga total berhenti 0km/jam.

Toyota Avanza ABS : 47,79 m. (Autobild, 16 Desember 2008)
Toyota Yaris ABS+EBD : 43,45 m. (Autobild, 16 Desember 2008)
Honda Jazz ABS+EBD : 47,5 m. (Autobild, 28 Agustus 2008)
Toyota Kijang Innova Diesel ABS : 43,0 m. (Tim Otomotif – Kompas)
Isuzu Panther LS Turbo : 50,1 m. (Tim Otomotif – Kompas)
Nissan Livina : 47,6 m. (Autobild, 28 Agustus 2008)
Daihatsu Sirion : 50,2 m. (Autobild, 28 Agustus 2008)

Bagaimana dengan truk besar dengan bobot + beban yang berat meluncur dengan kecepatan yang sama, melakukan pengereman hingga berhenti… tentunya jarak yang dibutuhkan akan lebih panjang hingga di atas 60meter.
Ditambah lagi teknologi rem pada truk yang umumnya ditemui di jalan Tol masih menggunakan rem tromol dengan kondisi ban yang mungkin kurang baik.

AWAS BELAKANG!

Mengacu pada data kemampuan jarak pengereman kendaraan di atas,.. kita bisa membuat ilustrasi sebagai berikut

Pada ilustrasi di atas, memperlihatkan kemampuan pengereman Kijang Innova cukup baik, dapat berhenti penuh dalam jarak 43 meter. Dengan kecepatan yang sama, suatu truk dengan beban penuh perlu jarak sekitar 80 meter untuk dapat berhenti penuh.
Akibatnya, Kijang yang sudah berhenti untuk menghindari sesuatu di depannya, ditabrak dan terdorong dari belakang oleh truk.

Dalam hal skenario di atas, semakin pakem sistem rem kita, justru semakin besar kerusakan yang mungkin akan terjadi jika kendaraan di belakang kita memerlukan jarak pengereman yang panjang.

KESIMPULAN

1. Jaga jarak aman dengan kendaraan di depan kita sekitar 2-3 detik.
2. Selalu mengawasi kendaraan apa yang ada di belakang, jaga jarak aman dengan kendaraan di belakang kita atau hindari berada di depan truk besar dalam kecepatan tinggi.
3. Anggap kendaraan di depan kita mempunyai sistem pengereman yang hebat, sementara mobil kita sebaliknya, sehingga kita perlu membuat jarak yang cukup untuk melakukan pengereman atau menghindari kecelakaan.
4. Anggap mobil kita punya sistem rem yang hebat, dan kendaraan di belakang kita sebaliknya.. sehingga membuat kita selalu mengawasi dan menjaga jarak aman dengan kendaraan di belakang kita.
5. Saat melakukan pengereman mendadak, selalu segera melihat kaca spion untuk melihat kendaraan apa yang ada di belakang, seberapa dekat, untuk mengantisipasi menghindari kecelakaan tabrakan dari belakang.
6. Selalu berhati-hati selama berkendara
7. Berdoa sebelum dan selama melakukan perjalanan.

[ saft7.com - automotive tips and sharing ]

26 Responses to Safety: Bahaya Dari Belakang

  1. karpidol says:

    saya mau nanya nih…..
    kira-kira…..

    jarak mobil kita dengan jarak mobil di depan kita dikatakan dekat kira2 berapa meter….
    trus dikatakn sedang itu berapa meter dan dikatakan jauh mulai berapa meter…….
    semoga ada yang menjawab….
    karena membantu dalam pengambilan data untuk skripsi saya….
    terima kasih semua

  2. Pakdehari says:

    Kalau gitu kalo di belakan keliatan mobil besar , sebaiknya kalo kita mau ngerem jangan mendadak sekali takutnya di seruduk dari belakang ya ?

    salam

  3. dani says:

    mulai detik ini WAJIB bagi produsen mobil menerapkan teknologi sensor jarak kendaraan dengan yag didepan maupun dibelakangnya.

  4. leo darmawan says:

    Semakin banyak pengendara yang berjalan pada malam hari dengan menyalakan lampu “dim” tanpa maksud yang jelas membuat silau pengendara di depannya. Degradasi sopan santun berkendara. Menyedihkan. Kembali ke jaman primitif.

  5. leo darmawan says:

    Sering juga dijumpai pengendara yang berjalan di lajur paling kanan tapi tidak sedang mendahului dan tidak ada kendaraan di depannya (berjalan dengan kecepatan di bawah kecepatan arus pada lajur tsb) dan lebih parahnya terlalu sering mengerem tanpa sebab. Hal ini sungguh membuat pengendara di belakangnya tidak nyaman dan grogi.

  6. ariandy says:

    Kalo nyetir sambil motret, bahaya gak tuh? Hehehe..

  7. Okky says:

    Saya pas dulu belajar nyetir diajari:
    Jika mobil dibelakang kita kemampuan remnya dibawah mobil kita, kita bisa menambah kecepatan untuk menjauh atau membiarkannya lewat.
    Jika kita menguntit mobil yang lebih baik remnya dari kita, bisa kita biarkan dia menjauh jika dia cukup cepat atau kita salip jika ia terlalu lambat.
    Paling enak mengikuti mobil yang ukurannya sedikit lebih besar dan cukup cepat, membuat mata tidak capai untuk ngepas jalan.
    Semoga membantu

  8. priyo says:

    tips yang sangat berguna thanks Pak

  9. agus ramdani says:

    Perlu diperhitungkan jenis jalan yang dipijak. kehalusan aspal dan kehalusan beton perlu jadi faktor sliding roda kita.Ingat juga jenis ban dan kembang ban kita.Bukan gitu bos

  10. saft says:

    hdoq says:
    Um Saft,
    Liat di foto, yang di spion kecil (bulet) kok ga ada trucknya um? hehehe…

    Jawab:
    Ada kok..
    Perhatiin deh.. kecil banget.. mengingat itu kan kaca cembung.. jadi ya obyek2 jadi jauh banget dah kecil terlihatnya.. :)

  11. hdoq says:

    Um Saft,
    Liat di foto, yang di spion kecil (bulet) kok ga ada trucknya um? hehehe…

  12. zainal says:

    oom saft,
    thanks, nice and useful article.

    dulu waktu waktu ikut defensive driving, 2 menit sekali mata harus liat spion, untuk antisipasi samping dan belakang.
    terus, yang sering njengkelin di jalan, biasanya spesies besar (bus/truk) dan ngebut, padahal dengan rem anginnya, jarak pengereman > 60m.

    selama ini antisipasi ane:
    1. kasih mereka duluan, kalo kita lagi nyantai
    2. ngacir kalo bisa ngacir
    3. agak susah kalo dilampu merah dan ditempel mereka. pernah pas hijau mau ke merah, kita pengennya berenti, bis belakang pengennya lanjut dan akhirnya ngerem karena kita berenti. akhirnya biar gak ditabrak belakang, kami lepas rem (kalo ngerem pasti bakal ditabrak dari belakang) dan berenti melewati marka putih. serem dah…

    so, hati2 aja, rem angin yang pakem aja jarak pengeremannya jauh, apalagi yang gak pakem…

    salam safety first…

  13. opan says:

    vw safari,
    rem tromol depan belakang, tanpa booster. hanya mengandalkan kaki. diinjak terlalu kuat nge-lock. klo diinjak halus ngga brenti2. gimana tuh..
    hehe..

  14. AutoExpress says:

    yg ga kalah penting, perhatikan & jaga : kondisi rem & minyaknya, ketebalan kembang ban & tekanannya, sudut2 keselarasan roda & shock absorber; guna mendukung pengendalian saat panic braking.

  15. Loho says:

    info yang sangat berguna om… tadi tau nih kira2 kenapa yang di belakang nyelonong padahal kita udah berhenti lama….

    safety first…

  16. Yoga says:

    nice inpo pak,
    kalo sy selain jaga jarak jika bisa saya akan lihat situasi di depan mobil yg saya ikuti jadi kalo mobil yang lebih depan melambat meskipun lampu rem mobil yang persis di depan saya belum menyala saya mengurangi kecepatan untuk melebarkan jarak.
    @pak Gunadi
    Di jalan tol memang bisa dilakukan manuver menghindar ke kiri/kanan tapi hal ini harus extra hati-hati krn ada bahaya justru mobil di belakang yang berbeda jalur tidak mengantisipasi gerakan mobil yang melakukan manuver pindah jalur tersebut.

  17. Rio says:

    Sap, terlalu detail…gmana kalo bahas secara general dengan break down definisi kecepatan?
    kaya yang ada di RSA tuuh…
    :D

  18. Gunadi says:

    oom, yg saya perhatikan klo lagi injek rem mendadak di tol, lalu cek ke depan dan belakang, biasanya ada 1-2 mobil yg entah sengaja atau tidak, banting setir sehingga hidungnya tdk pas berada di pantat mobil depannya tapi agak menyilang atau bahkan sejajar.

    apakah ini salah satu trik agar tdk kena tabrakan beruntun? dgn cara itu memang kita menciptakan lane baru, antrian baru, sekaligus ruang bagi mobil belakang utk banting stir ke arah lain.

  19. Hasan says:

    Om Saft,

    Terima kasih atas infonya, dulu saya jg pernah ikut DDC & DC (Defensive Driving Course & Driving Commentary), sama halnya yang Om sebutkan bahwa kita perlu jarak aman atau yang disebut dengan istilah “Bubbling space” waktu itu diajarkan cara menghitungnya secara international sich “one thousand one; one thousand two…etc” dengan patokan yg sama.

    Mungkin tips yang perlu ditambahkan:
    1. Kebiasaan melihat kelima arah (5 seeing habits), yaitu melihat arah depan, sisi kanan, sisi kiri, belakang dan atas. Melihat ke atas dimaksudkan untuk jaga2 apabila ada “falling stuffs”.
    2. Keep your eyes moving; yaitu membiasakan mata kita utk bergerak, menurut sang instruktur sich tiap 2 detik mata kita harus gerak, cuma ya disesuaikan aja dengan kebiasaan, asal jangan melotot terus kedepan.
    3. Makanan, minuman, musik, HP, Penumpang dlm kendaraan, dll. kadang bisa mengalihkan konsentrasi kita dlm berkendara, apalagi kalo minumannya memabukan dan penumpangnya Luna Maya…bisa berabe kali Om…hehehe

    Overall…thanks atas infonya.
    Ditunggu info selanjutnya.

    cheers,
    Hasan NLC1050

  20. Hendro Buditjahjono says:

    menurut gw kondisi ideal untuk lebih safe pake patokan 4-5 detik sob , penambahan ini karena faktor reflek pengemudi.

  21. Pine says:

    Gw pernah ngalami, di trafig light gw ditubruk truk dari belakang dan gw nubruk mobil depan.

  22. Moefid says:

    Terima kasih sharingnya om, sangat bermanfaat untuk selalu mengingatkan diri sendiri dan orang lain agar menjaga jarak dengan kendaraan didepan dan dibelakang.

  23. Oom Uban says:

    Kalau saya melihat ada kendaraan terlalu dekat dibelakang mobil saya, biasanya saya melepas pedal gas beberapa kali sambil menginjak pedal rem … sekedar agar lampu remnya menyala. Terkesan “ngerjain” … tapi efektif. Karena biasanya, kendaraan dibelakang akan menjauh atau memutuskan untuk menyalip sekalian.

  24. pikofias says:

    Ilustrasi truk vs kijang seperti kejadian yang hampir pernah gw alamin. Untung langsung liat ke spion dan sempet buang ke kanan.

  25. farouq says:

    kalau saya menggunakan meteran per 200 meter dengan mengukur perkiraan, 100 meter untuk 100 km/h 80meter untuk 80km/h dan seterusnya. ini juga terdapat di lintasan tol jakarta merak (lupa km berapa). Di tol cikampek sangat sering terjadi kecepatan rata-rata 80-100km/h dengan jarak kira-kira hanya 10-20 meter, sangat fatal sekali. Terima kasih infonya

Leave a Reply





Switch to our mobile site

Tips Otomotif saft7.com