.

 

Produksi Massal, Kualitas Jangan Asal (busi)

busipatah00

Perkembangan teknologi industri massal khususnya untuk komponen busi terus berkembang, mulai dari teknologi yang digunakan oleh busi itu sendiri, seperti penggunaan material khusus (iridium, platinum, silver, dsb), hingga tentunya pada teknologi proses produksi busi itu sendiri untuk mengejar jumlah produksi perhari dengan kualitas yang terjaga.

Pada artikel ini saya tidak membicarakan soal busi palsu, yang jelas tentunya memiliki kualitas yang tidak seperti aslinya. Namun pada artikel ini saya mencoba berbagi cerita atas beberapa kasus dan fakta yang saya temukan sehubungan dengan kontrol kualitas (Quality Control) dari busi yang beredar di masyarakat.

KASUS-1

Suatu ketika saya membeli busi, bahkan baru dibuka dari kemasan segel plastiknya yang masih rapih… Ditemukan keramik elektroda yang pecah! Wah.. untung saja saya selalu meneliti apa yang saya beli sebelum meninggalkan toko tersebut. Sehingga saya bisa segera menukarnya dengan yang baik dengan tentunya membuka kemasan lainnya sebagai pengganti.

Apa yang terjadi apabila saya pasang busi yang keramik elektrodanya pecah? tentunya terjadi kebocoran listrik yang mengakibatkan loncatan lidah api tidak pada tempat yang seharusnya yaitu di ujung elektroda, melainkan mungkin saja terjadi pada batang elektroda yang tidak lagi terbungkus oleh keramik tersebut.

KASUS-2

Mobil saya, mengharuskan setiap busi yang dipasang, dilepas terlebih dahulu ring terminal yang ada di ujung busi bagian bawah, yaitu dengan cara diputar seperti membuka mur/baut.

Namun apa yang terjadi… pada salah satu busi baru tersebut, ketika saya memutar ring terminal tersebut, ternyata dengan sangat mudah batang inti elektroda ternyata ikut berputar dengan ring terminal tersebut.. BAH! Kok bisa??

Hasilnya,.. saya telepon toko langganan tersebut.. dan digantikan dengan busi yang baru lagi.

KASUS-3

Saya mendapat kiriman foto dari teman yang mengalami busi patah pada saat akan dilepas dari mesin. Hasilnya, baut drat busi tertinggal di Cylinder Head mesin.

Kredit Foto: Leo Widyanto

Kredit Foto: Leo Widyanto

Kredit Foto: Leo Widyanto

Wah sadis kan? .. Buat teman saya itu mimpi buruk! Sebab hampir semua montir mengatakan harus turun setengah mesin, untuk melepas Cylinder Head, kemudian dibawa ke tukang bubut untuk dilepas baut busi yang tertinggal tersebut.

Tapi kalau kita bertenang sejenak… masih bisa ditolong kok, tanpa harus turun setengah seperti itu. Saya akhirnya menyarankan teman untuk menggunakan Screw Extractor (pernah diulas pada tips sebelumnya, untuk melepas baut yang patah).

Screw Extractor bekerja seperti sekrup dengan arah putar yang terbalik dari biasanya.
Yaitu diputar ke arah kiri (ccw). Pada saat diputar ke arah kiri, sebenarnya screw extractor akan semakin mengunci mengigit kuat pada sisa busi yang kebetulan bagian tengahnya bolong karena keramiknya tercabut seperti pada foto di atas.
Dengan tenaga ekstra.. akhirnya… JDAAAGHHH… sisa baut busi bisa ikut terputar oleh screw extractor dan terlepas dari Cylinder Head. Alhamdulillah.

KASUS-4

Pada saat saya membuat artikel tentang resistansi busi, saya terkejut ketika mengukur resistansi busi merek BERU SILVERSTONE nilainya sangat tinggi, yaitu sekitar 13.2kOhm. Sementara di website busi tersebut disebutkan bahwa busi itu tidak ada Suppression Resistor nya, wah.. kok bisa ya.

Hal tersebut diperkuat oleh rekan yang mengukur busi BERU yang baru dibelinya, dan memang hanya sekitar 0.8 ohm saja. Kemudian saya akhirnya meminjam 3 busi yang sama untuk saya ukur dan resistansi rata-rata memang sekitar 0.7 – 0.8 ohm saja.
Artinya, busi yang tadi diukur sebesar 13.2kOhm mungkin saja patah pada bagian dalam busi yang tidak terlihat, sehingga membentuk resistansi yang sedemikian besar.

Jika busi itu dipasang ke mesin kita… maka dipastikan mesin kita akan ‘pincang’. Lucu dong, baru ganti semua busi malah jadi pincang. Tapi demikian lah yang terjadi pada beberapa teman saya, akibat salah satu busi rusak tak terlihat saat baru dibeli.

Kesimpulan dan Saran…

1. Saat membeli busi, sekalipun masih dalam segel, perhatikan baik-baik bentuk fisiknya, jangan ada cacat fisik.

2. Sebaiknya membeli busi di toko partshop yang menyediakan OhmMeter, atau bawa sendiri Ohm-Meter untuk mengukur resistansi busi satu persatu.

3. Jika paket busi dalam kemasan 4 per paketnya, mintalah ijin kepada penjual untuk diperbolehkan mengukur resistansi satu persatu. Usahakan perbedaan nilai resistansi tidak berbeda jauh, paling tidak toleransi berbeda +/- 25% masih bisa digunakan.

4. Saat memasang busi, Jangan terlalu kencang. Perhatikan cara pasang busi pada kemasan busi tersebut.

5. Untuk produsen busi, tingkatkan lagi Quality Control atas setiap produk yang dihasilkan. Kasus 1, 2 dan 3 di atas terjadi pada merek BOSCH W8DC, kasus 4 di atas terjadi pada merek Beru SilverStone.

6. Kerusakan bisa juga terjadi saat penyimpanan di gudang, terjatuh, dibanting, dan sebagainya yang menyebabkan pecah/retak bagian dalam busi.

Semoga sharing ini bermanfaat.

19 Responses to Produksi Massal, Kualitas Jangan Asal (busi)

  1. Teguh says:

    Persis pengalaman saya. Motor saya mensyaratkan pemakaian busi BOSCH UR5DC. Awalnya tidak masalah. Motor terasa enak. Kemudian pada 10.000 km sambil servis saya ganti busi baru orisinil. Baru 1 minggu motor endut-endutan. Waktu busi saya buka, eh, keramiknya retak. Saya ganti lagi beli baru, tetapi BOSCH UR5DDC. Bedanya, yang ini memiliki 2 katoda. Baru 3 hari, motor malah mogok. Waktu busi saya buka, malah patah jadi 2 sehingga besi ulir tertinggal dalam lobang busi. Untung bisa dibuka pakai obeng. Sekarang saya pakai DENSO, sudah 2000 km masih lancar. Padahal busi Bosch orisinil beli di dealer, tapi kualitasnya benar-benar di bawah standar.

  2. atoenk says:

    bung mohon informasi mengenai busi palsu ma yang asli,gmana cara membedakannya.thanks sebelumnya

  3. ardhian says:

    untuk 230e th 1991, rekomendasi yg pas pake busi apa ya??? trims

  4. ness says:

    ada yang punya pengalaman tentang busi champion tidak untuk penggunaan di atomotive. thanks

  5. kasus busi W8DC kali pas apes aja yah,tapi apes koq ampe 3x kasus.saya memang pernah jadi pelanggan tu merk busi tapi allhamdulillah gak ada masalah sih.yg jelas kan bukan busi “artis”.kaya oli artis aja.

  6. dity says:

    om saft, saya menggunakan mercy boxer 230E tahun 1991 dan menggunakan busi Bosch W8DC. apakah dalam pemasangannya harus melepas ring terminal nya juga??

  7. iwan says:

    bos,…
    mesin pincang…emang harus turun mesin setengah? (sori gw masih awam)
    makasiiiii.

  8. deni says:

    terlebih dahulu saya mohon maaf, soalnye yang saya ingin tanyakan bukan masalah Busi tapi masih dalam masalah pengapian. yaitu tentang KOIL.
    Begini bung saft, apakah KOIL untuk motor yang menggunakan pengapian AC dan DC itu berbeda? apakah bisa saling tukar KOIL?
    apa pengaruhnya bila motor yang menggunakan pengapian AC di ganti koilnya punya pengapian DC? Mohon penjlasan dari bung SAFT tentang masalah ini.
    terima kasiiiiiiiih

  9. andre jr says:

    waaaaaa saya baru aja beli BOSCH W8DC seminggu yang lalu….
    mobil ane toyota starlet…
    nyesel juga nih. kok baru sekarang baca website ini…
    kalau sudah terlanjur begini sebaiknya gimana ya kang saft? mosok harus ganti lagi…. kan sayang tuh duit 50rebu melayang sia-sia….

  10. Aditia.S says:

    hihihihihi kalo sama busi ‘biasa’ yg selalu saya beli macam denso dll gimana Qc nya yah ?? trus sy mo cerita juga nih.. temen saya pake karimun dia beli busi 4 buah yg biasa std suzuki , trus dia perhatikan satu2 dan akhirnya dia pasang dan pincang, trus balik lagi sampai nemu yang pass dan alhasil busi nya: memakai 2 merk yang berbeda dan dalam satu merk punya bungkus yang berbeda juga untuk nemu yang pas dan hasilnya bagus ( di toko yg sama ) hihihihi .. aneh2 aja

  11. Dion says:

    Wah.. wah.. Kayanya gw tetap harus bertahan pakai busi Autolite neh.. Best of the best dah pokoknya.. Udah jera pake busi merk lain. Pake Autolite ga pernah pusing urusan beginian. Dulu pernah pake busi yang katanya apinya muter..bla..bla.. Ga taunya pecah didalam. Gawat. Untung bisa diakalin sama montirnya supaya nggak usah turun mesin. Untungnya bawa cadangan Autolite, langsung ganti dan sampe sekarang nggak pernah ada masalah lagi..

  12. Coen says:

    busi Cucian :
    1. Banyak besot2 kawat (bekas dibersihkan)
    2. Compression Ring Gepeng
    3. Insulator tidak Mengkilat/rapi pada ujungnya..
    4. ujung busi ada bekas kena Kabel Busi (cacat)
    dll….

    sekian laporan saya…
    Coen

  13. Coen says:

    Beli busi wajib bawa Multitester…… yg bagus&akurat pake SANWA… ad yg lain?

    klo nggak ada, bisa pinjem sang empu toko.. klo empu nggak ada.. mending Jgn dech.. hehehehehe

    Coen

  14. Trianto says:

    Kang Saft,
    Artikelnya menarik nih, saya selama ini yang jadi konsumen setia BOSC dan BERU, jadi harus hati – hati kalau mau beli busi kedua merek diatas tadi.
    Merek yang terkenal memang tidak bisa dijadikan patokan yah, ternyata QC nya jelek.

    cheers…

  15. Danu Putra says:

    Kang Saft,
    Kalo utk Twincam apakah perlu ritual melepas ring terminal yg ada di ujung bawah busi seperti halnya mobil akang?
    Misalkan kondisi standar yg disyaratkan harus melepas ring terminal tersebut, apa efek negatifnya jika ketika mengganti busi ring terminal tersebut masih terpasang?

    Nuhun in Advance

  16. Arika Bachtiar says:

    Om Saft..
    Disinyalir banyak busi hasil “cucian” beredar dipasaran. Gimana ya cara mendeteksi nya? apakah cukup dengan patokan resistansinya?
    Susah euy bedainnya..

  17. Leo"geol"Widyanto says:

    Waaaa… ternyata busi merk B**CH agak runyam juga neh…
    padahal gue percaya banget tuh sama tuh busi.. ternyata setelah gue ngalamin kejadian kasus-3, agak miris juga ya mikirinnya…
    ternyata beli busi di tempat yang bonafid belum jaminan juga yaaa…
    waspadalah..waspadalah….

  18. Harjanto says:

    Kang…
    cara ngukur resistansi busi, gimana yak?

    Di antara ujung elektrodanya (yg keluar busur listrik)?

    Atau dari ujung ke ujung..?

    Makasih sebelumnya.

    -sh-

  19. Yudo says:

    Jadi kemana harus nyari yang kwlitasnya bagus ?
    Konsumen selalu di rugikan ya !!

Leave a Reply





Switch to our mobile site

Tips Otomotif saft7.com