.

 

Menganalisa Sendiri Hasil Test Emisi Gas Buang

GasAnalyzer

Contributed by Ardi Tjitra

Sudah uji emisi belum?
Lazimnya kalau di bengkel, sekalian Tune-Up, sembari diakhiri dengan istilah Setel/Check CO.
Bukan hanya soal masalah pencemaran lingkungan, tapi dari uji emisi kita bisa mengetahui apakah ada kerusakan pada mobil kita dan tentunya bisa membuat hemat BBM.

Dalam mendukung usaha pelestarian lingkungan hidup, negara-negara di dunia mulai menyadari bahwa gas buang kendaraan merupakan salah satu polutan atau sumber pencemaran udara terbesar oleh karena itu, gas buang kendaraan harus dibuat “sebersih” mungkin agar tidak mencemari udara.

Pada negara-negara yang memiliki standar emisi gas buang kendaraan yang ketat, ada 5 unsur dalam gas buang kendaraan yang akan diukur yaitu senyawa HC, CO, CO2, O2 dan senyawa NOx. Sedangkan pada negara-negara yang standar emisinya tidak terlalu ketat, hanya mengukur 4 unsur dalam gas buang yaitu senyawa HC, CO, CO2 dan O2.

Emisi Senyawa Hidrokarbon
Bensin adalah senyawa hidrokarbon, jadi setiap HC yang didapat di gas buang kendaraan menunjukkan adanya bensin yang tidak terbakar dan terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila suatu senyawa hidrokarbon terbakar sempurna (bereaksi dengan oksigen) maka hasil reaksi pembakaran tersebut adalah karbondioksida (CO2) dan air(H¬2O). Walaupun rasio perbandingan antara udara dan bensin (AFR=Air-to-Fuel-Ratio) sudah tepat dan didukung oleh desain ruang bakar mesin saat ini yang sudah mendekati ideal, tetapi tetap saja sebagian dari bensin seolah-olah tetap dapat “bersembunyi” dari api saat terjadi proses pembakaran dan menyebabkan emisi HC pada ujung knalpot cukup tinggi.

Untuk mobil yang tidak dilengkapi dengan Catalytic Converter (CC), emisi HC yang dapat ditolerir adalah 500 ppm dan untuk mobil yang dilengkapi dengan CC, emisi HC yang dapat ditolerir adalah 50 ppm.

Emisi HC ini dapat ditekan dengan cara memberikan tambahan panas dan oksigen diluar ruang bakar untuk menuntaskan proses pembakaran. Proses injeksi oksigen tepat setelah exhaust port akan dapat menekan emisi HC secara drastis. Saat ini, beberapa mesin mobil sudah dilengkapi dengan electronic air injection reaction pump yang langsung bekerja saat cold-start untuk menurunkan emisi HC sesaat sebelum CC mencapai suhu kerja ideal.

Apabila emisi HC tinggi, menunjukkan ada 3 kemungkinan penyebabnya yaitu CC yang tidak berfungsi, AFR yang tidak tepat (terlalu kaya) atau bensin tidak terbakar dengan sempurna di ruang bakar. Apabila mobil dilengkapi dengan CC, maka harus dilakukan pengujian terlebih dahulu terhadap CC denganc ara mengukur perbedaan suhu antara inlet CC dan outletnya. Seharusnya suhu di outlet akan lebih tinggi minimal 10% daripada inletnya.

Apabila CC bekerja dengan normal tapi HC tetap tinggi, maka hal ini menunjukkan gejala bahwa AFR yang tidak tepat atau terjadi misfire. AFR yang terlalu kaya akan menyebabkan emisi HC menjadi tinggi. Ini bias disebabkan antara lain kebocoran fuel pressure regulator, setelan karburator tidak tepat, filter udara yang tersumbat, sensor temperature mesin yang tidak normal dan sebagainya yang dapat membuat AFR terlalu kaya. Injector yang kotor atau fuel pressure yang terlalu rendah dapat membuat butiran bensin menjadi terlalu besar untuk terbakar dengna sempurna dan ini juga akan membuat emisi HC menjadi tinggi. Apapun alasannya, AFR yang terlalu kaya juga akan membuat emisi CO menjadi tinggi dan bahkan menyebabkan outlet dari CC mengalami overheat, tetapi CO dan HC yang tinggi juga bisa disebabkan oleh rembasnya pelumas ke ruang bakar.

Apabila hanya HC yang tinggi, maka harus ditelusuri penyebab yang membuat ECU memerintahkan injector untuk menyemprotkan bensin hanya sedikit sehingga AFR terlalu kurus yang menyebabkan terjadinya intermittent misfire. Pada mobil yang masih menggunakan karburator, penyebab misfire antara lain adalah kabel busi yang tidak baik, timing pengapian yang terlalu mundur, kebocoran udara disekitar intake manifold atau mechanical problem yang menyebabkan angka kompresi mesin rendah.

Untuk mobil yang dilengkapi dengan sistem EFI dan CC, gejala misfire ini harus segera diatasi karena apabila didiamkan, ECU akan terus menerus berusaha membuat AFR menjadi kaya karena membaca bahwa masih ada oksigen yang tidak terbakar ini. Akibatnya CC akan mengalami overheat.

Emisi Karbon Monoksida (CO)
Gas karbonmonoksida adalah gas yang relative tidak stabil dan cenderung bereaksi dengan unsur lain. Karbon monoksida, dapat diubah dengan mudah menjadi CO2 dengan bantuan sedikit oksigen dan panas. Saat mesin bekerja dengan AFR yang tepat, emisi CO pada ujung knalpot berkisar 0.5% sampai 1% untuk mesin yang dilengkapi dengan sistem injeksi atau sekitar 2.5% untuk mesin yang masih menggunakan karburator. Dengan bantuan air injection system atau CC, maka CO dapat dibuat serendah mungkin mendekati 0%.

Apabila AFR sedikit saja lebih kaya dari angka idealnya (AFR ideal = lambda = 1.00) maka emisi CO akan naik secara drastis. Jadi tingginya angka CO menunjukkan bahwa AFR terlalu kaya dan ini bisa disebabkan antara lain karena masalah di fuel injection system seperti fuel pressure yang terlalu tinggi, sensor suhu mesin yang tidak normal, air filter yang kotor, PCV system yang tidak normal, karburator yang kotor atau setelannya yang tidak tepat.

- www.saft7.com –

Emisi Karbon Dioksida (CO2)
Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka ideal, emisi CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus atau terlalu kaya, maka emisi CO2 akan turun secara drastis. Apabila CO2 berada dibawah 12%, maka kita harus melihat emisi lainnya yang menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus.

Perlu diingat bahwa sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar dan CC. Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan HC normal, menunjukkan adanya kebocoran exhaust pipe.

Oksigen (O2)
Konsentrasi dari oksigen di gas buang kendaraan berbanding terbalik dengan konsentrasi CO2. Untuk mendapatkan proses pembakaran yang sempurna, maka kadar oksigen yang masuk ke ruang bakar harus mencukupi untuk setiap molekul hidrokarbon.

Dalam ruang bakar, campuran udara dan bensin dapat terbakar dengan sempurna apabila bentuk dari ruang bakar tersebut melengkung secara sempurna. Kondisi ini memungkinkan molekul bensin dan molekul udara dapat dengan mudah bertemu untuk bereaksi dengan sempurna pada proses pembakaran. Tapi sayangnya, ruang bakar tidak dapat sempurna melengkung dan halus sehingga memungkinkan molekul bensin seolah-olah bersembunyi dari molekul oksigen dan menyebabkan proses pembakaran tidak terjadi dengan sempurna.

Untuk mengurangi emisi HC, maka dibutuhkan sedikit tambahan udara atau oksigen untuk memastikan bahwa semua molekul bensin dapat “bertemu” dengan molekul oksigen untuk bereaksi dengan sempurna. Ini berarti AFR 14,7:1 (lambda = 1.00) sebenarnya merupakan kondisi yang sedikit kurus. Inilah yang menyebabkan oksigen dalam gas buang akan berkisar antara 0.5% sampai 1%. Pada mesin yang dilengkapi dengan CC, kondisi ini akan baik karena membantu fungsi CC untuk mengubah CO dan HC menjadi CO2.

Mesin tetap dapat bekerja dengan baik walaupun AFR terlalu kurus bahkan hingga AFR mencapai 16:1. Tapi dalam kondisi seperti ini akan timbul efek lain seperti mesin cenderung knocking, suhu mesin bertambah dan emisi senyawa NOx juga akan meningkat drastis.

Normalnya konsentrasi oksigen di gas buang adalah sekitar 1.2% atau lebih kecil bahkan mungkin 0%. Tapi kita harus berhati-hati apabila konsentrasi oksigen mencapai 0%. Ini menunjukkan bahwa semua oksigen dapat terpakai semua dalam proses pembakaran dan ini dapat berarti bahwa AFR cenderung kaya. Dalam kondisi demikian, rendahnya konsentrasi oksigen akan berbarengan dengan tingginya emisi CO. Apabila konsentrasi oksigen tinggi dapat berarti AFR terlalu kurus tapi juga dapat menunjukkan beberapa hal lain. Apabila dibarengi dengan tingginya CO dan HC, maka pada mobil yang dilengkapi dengan CC berarti CC mengalami kerusakan. Untuk mobil yang tidak dilengkapi dengan CC, bila oksigen terlalu tinggi dan lainnya rendah berarti ada kebocoran di exhaust sytem.

Emisi senyawa NOx

Selain keempat gas diatas, emisi NOx tidak dipentingkan dalam melakukan diagnose terhadap mesin. Senyawa NOx adalah ikatan kimia antara unsur nitrogen dan oksigen. Dalam kondisi normal atmosphere, nitrogen adalah gas inert yang amat stabil yang tidak akan berikatan dengan unsur lain. Tetapi dalam kondisi suhu tinggi dan tekanan tinggi dalam ruang bakar, nitrogen akan memecah ikatannya dan berikatan dengan oksigen.

Senyawa NOx ini sangat tidak stabil dan bila terlepas ke udara bebas, akan berikatan dengan oksigen untuk membentuk NO2. Inilah yang amat berbahaya karena senyawa ini amat beracun dan bila terkena air akan membentuk asam nitrat.

Tingginya konsentrasi senyawa NOx disebabkan karena tingginya konsentrasi oksigen ditambah dengan tingginya suhu ruang bakar. Untuk menjaga agar konsentrasi NOx tidak tinggi maka diperlukan kontrol secara tepat terhadap AFR dan suhu ruang bakar harus dijaga agar tidak terlalu tinggi baik dengan EGR maupun long valve overlap. Normalnya NOx pada saat idle tidak melebihi 100 ppm. Apabila AFR terlalu kurus, timing pengapian yang terlalu tinggi atau sebab lainnya yang menyebabkan suhu ruang bakar meningkat, akan meningkatkan konsentrasi NOx dan ini tidak akan dapat diatasi oleh CC atau sistem EGR yang canggih sekalipun.

Tumpukan kerak karbon yang berada di ruang bakar juga akan meningkatkan kompresi mesin dan dapat menyebabkan timbulnya titik panas yang dapat meningkatkan kadar NOx. Mesin yang sering detonasi juga akan menyebabkan tingginya konsentrasi NOx.

Untuk memudahkan kita menganalisa kondisi mesin, kita dapat memakai penjelasan dibawah sebagai alat bantu :

1. Emisi CO tinggi, menunjukkan kondisi dimana AFR terlalu kaya (lambda < 1.00). Secara umum CO menunjukkan angka efisiensi dari pembakaran di ruang bakar. Tingginya emisi CO disebabkan karena kurangnya oksigen untuk menghasilkan pembakaran yang tuntas dan sempurna.

Hal-hal yang menyebabkan AFR terlalu kaya antara lain :
- Idle speed terlalu rendah.
- Setelan pelampung karburator yang tidak tepat menyebabkan bensin terlalu banyak.
- Air filter yang kotor.
- Pelumas mesin yang terlalu kotor atau terkontaminasi berat.
- Charcoal Canister yang jenuh.
- PCV valve yang tidak bekerja.
- Kinerja fuel delivery system yang tidak normal.
- Air intake temperature sensor yang tidak normal.
- Coolant temperature sensor yang tidak normal.
- Catalytic Converter yang tidak bekerja.

2. Normal CO. Apabila AFR berada dekat atau tepat pada titik ideal (AFR 14,7 atau lambda = 1.00) maka emisi CO tidak akan lebih dari 1% pada mesin dengan sistem injeksi atau 2.5% pada mesin dengan karburator.

3. CO terlalu rendah. Sebenarnya tidak ada batasan dimana CO dikatakan terlalu rendah. Konsentrasi CO terkadang masih terlihat “normal” walaupun mesin sudah bekerja dengan campuran yang amat kurus.

- www.saft7.com –

4.Emisi HC tinggi. Umumnya kondisi ini menunjukkan adanya kelebihan bensin yang tidak terbakar yang disebabkan karena kegagalan sistem pengapian atau pembakaran yang tidak sempurna. Konsentrasi HC diukur dalam satuan ppm (part per million). Penyebab umumnya adalah sistem pengapian yang tidak mumpuni, kebocoran di intake manifold, dan masalah di AFR.

Penyebab lainnya adalah :
- Pembakaran yang tidak sempurna karena busi yang sudah rusak.
- Timing pengapian yang terlalu mundur.
- Kabel busi yang rusak.
- Kompresi mesin yang rendah.
- Kebocoran pada intake.
- Kesalahan pembacaan data oleh ECU sehingga menyebabkan AFR terlalu kaya.

5. Kosentrasi Oksigen. Menunjukkan jumlah udara yang masuk ke ruang bakar berbanding dengan jumlah bensin. Angka ideal untuk oksigen pada emisi gas buang adalah berkisar antara 1% hingga 2%.

6. Konsentrasi oksigen tinggi. Ini menunjukkan bahwa AFR terlalu kurus.

Kondisi yang menyebabkan antara lain :
- AFR yang tidak tepat.
- Kebocoran pada saluran intake
- Kegagalan pada sistem pengapian yang menyebabkan misfire

7. Konsentrasi oksigen rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa AFR terlalu kaya.

8. Konsentrasi CO2 tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa AFR berada dekat atau tepat pada kondisi ideal.

9. Konsentrasi CO2 rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa AFR terlalu kurus atau terlalu kaya dan kebocoran pada exhaust system.

10. Konsentrasi senyawa NOx. Senyawa NOx termasuk nitrit oksida (NO) atau nitrat oksida (NO2) akan terbentuk bila suhu ruang bakar mencapai lebih dari 2500 derajat Farenheit (1350 oC). Senyawa ini juga dapat terbentuk apabila mesin mendapat beban berat.

11. Konsentrasi NOx tinggi.

Kondisi ini menunjukkan :
- EGR Valve tidak bekerja.
- AFR terlalu kurus.
- Spark Advancer yang tidak bekerja.
- Thermostatic Air Heater yang macet.
- Kerusakan pada cold air duct.
- Tingginya deposit kerak di ruang bakar.
- Catalytic Converter yang tidak normal.

12. Konsentrasi NOx rendah. Sebenarnya tidak ada batasan yang menyatakan emisi senyawa NOx terlalu rendah. Umumnya NOx adalah 0 ppm saat mesin idle.

Berikutnya adalah tabel untuk membantu kita membaca kemungkinan yang terjadi pada mesin berdasarkan kombinasi emisi gas buang yang ada :

- www.saft7.com –

sumber: www.interro.com/techtips.htm

35 Responses to Menganalisa Sendiri Hasil Test Emisi Gas Buang

  1. jimmy says:

    pak mau tanya kalo hasil test uji emisi mobil avanza vvti 1300 th 2007 seperti ini :
    CO 0.31%
    HC 103ppm
    CO2 12.5%
    O2 0.48%
    lambda 1.010
    AFR 14.8
    H/C 1.8500
    O/c 0.0000

    artinya bagus atau jelek….?
    thx

  2. suprayitno says:

    Mau tanya untuk biaya uji emisi kendaraan dengan menggunakan Analyzer bosh berapa ya ? dan dealer mana saja yan biasanya menyediakan fasilitas alat uji ini ? terimakasih

  3. suprayitno says:

    sekedar sebagai referensi untuk menurunkan tingkat emisi gas buang, bisa juga dengan menambahkan alat khusus pada mobil, yaitu xpowerengineup yang mampu menurunkan emisi gas buang cukup signifikan, sesuai hasil uji dengan menggunakan Gas Analizer Bosch

  4. Euglena viridis says:

    mbulet binti ruwet pangkat mbingungno :(

  5. A.Subahar says:

    pak saya mau tanya. Apa mungkin kosentrasi gas buang CO mobil saya 100%. Kemarin saya coba ukur di ITB (gratis). sementara pemakaian bahan bakar dalam kota adalah 1:11.Mobil saya Karimun 2001 km 145.000. Warna busi abu-abu mendekati sedikit hitam. Terimakasih sebelumnya.

  6. Rina says:

    saya ingin bertanya, mobil saya kenapa klo dbwa pada waktu malam lampunya tidak terang, dan lampu aki hidup terus dan keesokan harinya mesin tidak mau hidup dan klo diganti akinya dengan mobil yang lain baru mau hidup.apa yang rusak ya. Spark saya tipe LS tahun 2005.

  7. randy says:

    om Saft boleh tanya? Itu sensor yang di pake pada alat uji emisi itu sensor infra red atau sensor gas yah?

  8. Tutik Tusmiyati says:

    Mohon informasi….bagaimana cara mengetahui kadar NO2 dan SO2 dari emisi sumber bergerak…terima kasih banyak

  9. firmans08 says:

    ass.wr.wb
    mas mohon ijin minta artikelnya buat referensi tugas laporan..
    makasih sebelumnya…

  10. Kishin says:

    Pak Noegroho,

    Thanks yah atas masukannya..

    Nanti saya coba cek deh apa yang pak Noegroho sampaikan..

    Thanks

    Kishin

  11. noegroho says:

    Pak Kishin, menurut saya Chevy Spark anda bermasalah diruang bakar, coba lakukan pengecekan terhadap kondisi ring piston, klep minyak dan klep api beserta seal’nya. (apakah bocor atau rusak). Kemudian lakukan penyetelan ECU di dealer atau bengkel resmi Chevrolet karena biasanya hanya mereka yg mempunyai data program untuk mobil tersebut. Semoga berguna.
    salam buat om Saftari

  12. Newbie says:

    o0o…
    makasiH bwat jawabannya oM Saft’

    Jd saya udah ga bingung lg d pas uji emisi…
    berarti yg bnr adalah lubang knalpot jgn ditutup lg,cukup dgn memasukan alat uji emisi ke dlm lobang knalpot n mengamati monitor,ehehehe…

  13. Kishin says:

    Pak, Apa kabar?? pak saya lagi bingung banget. Mobil saya Spark tahun 2003. Ini mobil dulu irit banget. Tapi dalam 6 bulan terakhir ini buoros parah banget. Bensin cuman 1:6 maximum, dulu bisa 1:11.

    Sudah cek emisi dan hasilnya seperti ini :
    CO : 3.9
    CO2 : 10.2
    HC : 430
    O2 : Kurang inget (sekitar 0.5 atau 0.6)
    Lamda : 0.80

    Sudah dicoba segala macam cara. Sudah ganti busi, kuras tangki bensin, Timing Belt masih baru. Tune Up, Filter Udara dan filter bensin juga baru. Pokoknya segala macam cara sudah digunakan.
    Dan hasil diatas itu adalah hasil terakhir setelah semua langkah diambil. Sebelumnya hasilnya parah banget yang saya inget CO nya saja bisa sampai 6.5 angkanya.

    Saya sudah capek banget keluar masuk bengkel terus. Sudah ke bengkel resmi, tapi mereka bilang itu hasil maximal yang bisa saya dapat. Sudah saya bilang di stel donk Emisinya, tapi mereka bilang gak bisa karena katanya untuk mobil Spark (Chevrolet) tidak ada setelan nya.
    Terus ke bengkel rekanan info dari teman atau saudara, eh, sama mereka diulang lagi tune up, carbon clean dan Gurah (katanya semacam untuk pembersihan ruang bahan bakar), eh tetep aja hasilnya gak ada beda.
    Asap yang keluar normal normal saja, cuman terkadang keluar semacam cairan hitam seperti kerak gitu. Tapi yang gak tahan adalah bau asap knalpot yang seperti asap knalpot Bajaj. Bau banget dan menyengat hidung dan buat mata perih.

    Pak Saft, kalo bisa tolong kasih solusi donk apa yang harus saya lakukan. Ada yang bilang coba di cek Kompresinya, karena takutnya sudah dibawah 9 Kompresinya, ada yang bilang kalo Kompresi sudah menurun, mobil pasti tarikan gak enak dan gak ada tenaga, padahal untuk masalah tenaga, tidak ada masalah. Masih enteng banget. Ada yang bilang coba di port and polish (Biayanya gak tahan bisa 2 juta lebih katanya), tapi apa itu menjamin juga mereka tidak berani menjamin katanya.

    So please Pak Saft, kalo ada solusi bisa gak saya diberitahu atau mungkin kira kira ada bengkel rekanan yang kira kira bener bener bisa mengatasi masalah pada Mobil Spark saya. Via Japri ke email saya juga gak apa pak.. (Lokasi saya di Jakarta Pak)

    Sebelumnya dan sesudahnya terima kasih banget yah pak..

    Thanks

    Kishin

  14. blongkeng says:

    pripun soale nanang tentang CO dan CO cor kok ndak dibls??? butuh nih…

  15. Saftari says:

    @newbie:
    knalpot kudu dibuka spt biasa.. jangan ditutup. kacau tuh pasti hasil emisinya.. dan ga bagus buat mesin.

  16. Newbie says:

    Barusan saya cek lambda lewat uji emisi.

    Kenapa hasil lambda dan zat lainnya lebih tinggi ketika saya menutup sela2 knalpot agar gas yg kluar terkonsentrasi hisapannya ke dlm mesin gas analyzer??

    dan lebih rendah dgn kondisi sebaliknya.

    yang mana yah oM yg saya jadikan acuan,yg ditutup lubang knalpotnya atau dibuka lubang knalpotnya?

  17. nanang says:

    mas apa artinya CO cor pada gas analiser??? apa bedanya dg CO??

  18. Newbie says:

    Sukses trus bwat Om Saft,
    artikelnya bagus2…

    tambah lg infonya ttg hasil uji emisi.

  19. Newbie says:

    oM saFt…

    Saya udah uji emisi mtr Vixion saya,
    saya tune-up duLu sblmnya…

    Saya jga mengganti knalpot aftermarket,selebihnya std dan bgini hasilnya: Lambda 0.986 (saat gas stasioner) http://i293.photobucket.com/albums/mm53/db_imoetz/03082009006.jpg

    Pertanyaannya:
    berdasarkan grafik stoichiometric dr om Saft,http://i293.photobucket.com/albums/mm53/db_imoetz/ld-emisi08.jpg

    Lambda = 0,86 (tenaga max.)
    Lambda = 1 (ideaL)
    Lambda = 1.05 (irit max.)

    Apakah jga berlaku pd motor??
    Lalu acuan kondisi lambda tsb, apakah ketika mesin dalam keadaan stasioner (tidak digas) ??

    karena saya perhatikan di monitor,ketika gas saya tambah,angka lambda menjadi berkurang…

    Mohon bantuannya dan terima kasih banyak ^__^

  20. Saftari says:

    tanoto says:
    Mas saft, bagaimana dengan penambahan alat untuk pemadatan udara, seperti cyclone, proxima, dll. apa ada pengaruhnya pembakaran, TQ

    Jawab:
    Sangat berpengaruh.. tergantung metoda dari masing2 alat2 tambahan tadi… sebaiknya dicopot dulu kalau mau uji emisi.

  21. tanoto says:

    Mas saft, bagaimana dengan penambahan alat untuk pemadatan udara, seperti cyclone, proxima, dll. apa ada pengaruhnya pembakaran, TQ

  22. zamzami says:

    Artikel ini khusus membicarakan motor bakar bensin. Bagaimana dengan motor diesel ?

  23. saft says:

    yoedo says:
    Pak mohon bisa diberikan brosurnya dan contact person yang bisa dihubungi.
    Sekalian mhn info untuk diesel genset apa juga bisa?

    Jawab:
    Brosur apa nih om Yoedo?

  24. yoedo says:

    Pak mohon bisa diberikan brosurnya dan contact person yang bisa dihubungi.
    Sekalian mhn info untuk diesel genset apa juga bisa?

  25. Yth. Oom Saft..

    Mohon ijin copas artikel ini di blog saya..
    Matur nunun sebelumnya.

    Salam hormat,
    Hidayat

  26. Agus R says:

    Yth. Mas Saft

    Langsung aja ya Mas, aku kemarin habis tune Up hasilnya sbb :
    CO = 0,22 ; CO2 = 14,1;
    HC = 0146; O2 = 0,27
    Lamda = 1
    CO Cor = 0,23

    Kira-kira masih normal nggak mobil saya (Suzuki APV 2005).
    THX

  27. Yerry says:

    Mas Saft,
    Apakah pengaruhnya terhadap AFR dengan penggunaan Air Filter yang tidak standar (contoh: JFC) ?
    Karena saya mendapat info dari sebuah milis bahwa penggunaan Filter yang tidak standar membuat AFR mobil kita menjadi menurun kualitasnya.
    Mohon pencerahannya.

    Trims,
    Yerry

  28. aryo says:

    mas saft, klo ada bolehkah saya minta artikel ttg perbandingan bensin pertamina, shell, dan petronas..??

  29. TheOwner says:

    Nopian Says:
    mas Saft, boleh saya minta artikelnya untuk Tugas Akhir saya.. thx

    Jawab:
    Boleh banget om
    Tapi sertakan sumber referensinya ya….
    Thanks
    Saftari

  30. Nopian says:

    mas Saft, boleh saya minta artikelnya untuk Tugas Akhir saya.. thx

  31. Hary says:

    Selamat pagi mas Saft,
    Saya mau nanya nih, apa yang dimaksud dengan memajukan pengapian? Saya misalnya punya ignition timing 10 derajat BTDC. Dengan menjadikannya 12 derajat BTDC disebut apa? ( Memajukan atau memundurkan ) pengapian?

    Untuk bahan bakar yang lebih tinggi oktan number nya langkah apakah yang harus dilakukan untuk sebaiknya ( Memajukan atau memundurkan) pengapian? Kenapa mas? Terus apa dampaknya dengan langkah tersebut.

    Terima kasih sebelumnya mas atas jawaban pertanyaan saya yang sangat buanyak ini.

  32. aditiawarman says:

    ingin saya tanyakan waktu mobil dengan kecepatan tinggi gas diturunkan terjadi letusan di knalpot apa penyebabnya pada hal yang sudah diganti busi, saringan udara, platina sudah diganti dan saringan bahan bakar dibersihkan. terima kasih

  33. zainal says:

    AFR=Air Fuel Ratio=Air:Fuel
    Tapi, terminologi kurus dan gemuk make FAR=Fuel Air Ratio
    Maksudnya: AFR=16 (16mol Air:1 mol BB) –> Kurus
    AFR gemuk.

    Gimana baiknya biar gak misleading Kang Saft?

    Thanks.

  34. wasesa says:

    memang pernah mesin saya amat boros co terlalu tinggi n ngebul item/terlalu kaya.ternyata kabel busi dah gak bener karena terlalu tua,tahanan tinggi.setelah diganti that result good.jadi ulasan ini memang luar biasa.

  35. caesar says:

    saya ingin bertanya mengapa konsentrasi CO dan HC berbeda?karena saya pernah mengukur kadar emisi pada motor saya untuk konsentrasi HC adalah ppm, sedangkan untuk konsentrsi CO adalah %. thanx

Leave a Reply





Switch to our mobile site

Tips Otomotif saft7.com