Lampu Motor di Siang Hari.. Anget-angetan..

Sekitar November 2005, Dirjen Perhubungan Darat Departemen Peruhubungan (Iskandar) menyampaikan untuk menerapkan peraturan bagi pengendara sepeda motor untuk wajib menyalakan lampu di siang hari. Menyalakan lampu di siang hari sering disebut Daytime Running Light/ DRL.
Pada tanggal 4 November 2006, DRL disosialisasikan di Jalan Yos Sudarso, Jalan S. Parman, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin, juga daerah Cawang dan Pancoran.
Dasar hukum dari peraturan ini masih menunggu restu dari DPR, yaitu revisi UU 14/1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Pembahasan ini berlarut-larut hingga terdengar kabar baru Februari 2009 lalu Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal mewakili pemerintah resmi mengajukan draf Rancangan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RUU LLAJ) kepada DPR.
Pro dan kontra dari peraturan ini bermunculan. baik dari kalangan masyarakat dan bahkan dari DPR sendiri.
Ada yang menganggap sebagai pemborosan energi, tidak sesuai dengan iklim geografis, budaya, dan sebagainya.
Mungkin kurang gigihnya Dephub dan kepolisian memperjuangkan DRL ini dengan bukti-bukti lapangan yang membuat Revisi UU tersebut berlarut-larut, sementara pihak Kepolisian sendiri tidak dapat melakukan sangsi hukum (tilang) untuk pelanggar DRL karena belum kuat dasar hukumnya.

[ www.saft7.com - Automotive tips and sharing ]
MENGURANGI ANGKA KECELAKAAN
Di Surabaya, pada tahun 2005, program uji coba ini berhasil mencatat turunnya angka kecelakaan sepeda motor hingga 50%.
TO SEE and TO BE SEEN
Berdasarkan data, hingga Oktober 2006 jumlah kecelakaan kendaraan bermotor roda dua di wilayah hukum Polda Metro Jaya cukup mengkhawatirkan. Dari 4.026 kecelakaan yang terjadi, 3286-nya adalah kecelakaan kendaraan bermotor.
Dalam berlalu lintas, kita akan menggunakan prinsip “To See and To be Seen”. Saat di jalan, kita harus melihat keadaan sekitar dan untuk dilihat orang lain.
Kita juga perlu ingat bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan melihat dan mencerna situasi dengan baik. Ada yang cepat tanggap, ada yang lambat, bahkan ada yang tidak peduli.

Pada awal tahun 1960an di Texas digalakkan kampanye DRL ini. Mengingat di sana cukup tinggi jumlah kendaraan di jalan dan angka kecelakaan di jalan.
Kita lihat di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Angka kepemilikan sepeda motor meningkat tajam dari tahun ke tahun. Namun sayangnya tidak diikuti dengan kesadaran berkendara yang baik, ditambah tingkat emosional yang makin memprihatinkan akibat kemacetan lalu lintas.
Faktor-faktor tersebut membuat meningkatnya angka kecelekaan yang terjadi pada sepeda motor.
Program DRL untuk Indonesia memang sudah perlu dan benar untuk dijalankan. Hal paling utama adalah untuk memperkecil angka kecelakaan lalu lintas khususnya yang melibatkan sepeda motor.
[ www.saft7.com - Automotive tips and sharing ]
KAJIAN TEORI
Saat siang hari yang sangat terang, membuat mata kita seakan terbiasa melihat benda-benda sekitar (jalanan, trotoar, pohon, dsb). Ketika kita melihat ada kilasan atau sinar cahaya pada saat seperti itu, membuat perhatian kita mengarah ke cahaya tersebut. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa DRL perlu dilaksanakan.
Refleks saat mengemudi dari apa yang kita lihat, menentukan seberapa cepat respon kita saat melaju dalam kecepatan tertentu. Semakin cepat kendaraan kita melaju, maka jarak pandang yang dapat segera ditangkap mata untuk melakukan reaksi adalah seperti dalam tabel di bawah..

Dalam tabel di atas terbaca bahwa saat akan menyusul di kecepatan 60km/jam mata kita harus dapat melihat benda / kendaraan dengan jarak 220meter di depan kita… Lebih dekat dari itu, respon kita akan lambat mencerna benda apakah itu dalam kecepatan 60km/jam tersebut.
Jika dibantu dengan DRL, maka akan sangat membantu kita melihat dari jauh kendaraan (sepeda motor) yang datang dari arah depan atau samping, juga belakang (melalui kaca spion).
Bahkan.. di negara lain, dilakukan riset warna cahaya apa yang paling efektif untuk program DRL ini.

Akhirnya didapat hasil, bahwa cahaya putih-kekuningan baik untuk DRL.
[ www.saft7.com - Automotive tips and sharing ]
MEMBANTU PENGENDARA LAIN
Program DRL sangat membantu pengemudi mobil dan pengendara motor untuk dapat melihat keberadaan sepeda motor di belakangnya.. atau jauh di depannya.


Kita lihat jika semua sepeda motor tidak menyalakan lampu di siang hari..

Dengan lampu sepeda motor yang menyala, membuat pengemudi mobil melihat keberadaan sepeda motor tersebut.

Foto tersebut memperlihatkan posisi sepeda motor yang sedang menyusul mobil saya, ada yang menyalakan lampu dan ada yang tidak (bahkan tidak menggunakan helm).

[ www.saft7.com - Automotive tips and sharing ]
SOLUSI ALTERNATIF
Banyaknya keluhan masyarakat yang menganggap DRL hanya pemborosan energi atau membuat lampu cepat putus, boros BBM dan lain-lain. Di negara lain banyak dijual lampu tambahan berupa LED yang ber intensitas tinggi (kuning/merah) dipasang di sepeda motor dan mobil. Selain harganya murah, juga hemat energi (daya listrik yang dibutuhkan kecil).
Untuk di Indonesia, bisa dong kita bikin sendiri dengan LED SuperBright dengan modal tidak lebih dari 30ribu rupiah tentunya.

KESIMPULAN:
1. Program Daytime Running Light (DRL) sangat baik untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas.
2. DPR hendaknya mendukung penuh program tersebut.
3. Sosialisasi manfaat DRL bagi pengendara perlu terus dijalankan khususnya yang menyangkut keselamatan.
4. Penerapan SAFETY/Keselamatan tidak mengenal geografis, budaya, dsb.
5. Produsen Kendaraan, perlu memasang DRL yang hemat energi (LED) di setiap kendaraan baru yang dijualnya, untuk mendukung program tersebut.
6. Jika program DRL berhasil, maka motor tanpa lampu di malam hari akan semakin sedikit atau bahkan tidak ada lagi.
Saya pribadi sangat terbantu dengan adanya program DRL, motor di kejauhan bisa terlihat dengan baik.

Demikian artikel ini dibuat, untuk mengajak dan mengingatkan petugas terkait kembali menertibkan aturan-aturan yang pernah dibuat, untuk ditegakkan dan dijalankan secara konsisten dan baik.
.















seharusnya pihak pabrikan ato pihak pemerintah dan pihak2 terkait membantu pengadaan lampu LED secara massal yg mungkin bs dipasang/ ditempel pada plat nomer depan. kecil tetapi terang dan kelihatan. daripada memakai lampu utama yg membuat boros…!!!
Ya.. memang sebaiknya demikian…. saya pun berharap sama.
tpi adakah landasan teori mengapa harus roda dua?mengapa tidak mobil skalian…
kapan yah yg mobil diterapkan? supaya keren tuh kaya mobil2 audi pake drl putih2
mungkin karena saya juga bisa bawa kendaraan r-4, jadi tiap hari kerja bawa r-2 dari 2005 tetep nyalain lampu depan di siang hari, maksudnya biar sopir yang bawa mobil bisa liat saya yang bawa motor ada di belakangnya, naaa…. tahun 2010 lalu saya beli led super/ultra bright cukup banyak, 3 kantong (isi 1000/kantong), udah sebagian dipake untuk penerangan rumah (hemat listrik….!!!!) dimana untuk catu daya pake power supply komputer rusak (ambil yang 12V-nya)… juga kalau pas mati lampu/pln langsung copotin ki motor, BYAR!!! sekeliling rumah gelap, kita tetep terang benderang…
kepikiran untuk “hemat aki motor”, bikinlah rangkaian untuk lampu belakang sama lampu rem, tapi sayangnya, karena pengetahuan elektronik nggak ada, jadi bikin “asal idup”, na… itu udah bisa, tapi gitu dipasang ke motor yang akinya baru, umurnya gak lama, 1 jam dipasang pada mati… huuuu…huu….., apalagi kalau motor lagi digas, lebih cepet lagi matinya… setelah dicek, rupanya aki motor itu bukan 12v, kalau mesin lagi idup bisa lebih dari itu…
mohon pencerahannya dong suhu…. rangkaian yang kaya gimana supaya output dari aki motor stabil di 12v, termasuk, ada nggak rangkian flasher elektrik, jadi, lampu sen juga pengen pake led…
terus, saya punya luxeon 1watt 5 biji, apa bisa buat head lamp, tapi nggak mau ngrusak lampu aslinya…
seneng banget kalau bisa direspon….
terima kasih suhu
Hehehehe… peraturan itu dibuat kan pasti ada dasarnya, selama itu positif ya diikutin aja om… lagian juga pake lampu siang malem listriknya sama aja kok, bensinnya juga ga terlalu boros2 amat, mending dinyalain aja lampunya, atau sekalian aja para produsen motor bikin lampu yang on terus gitu, dibikin otomatis, pas masuk gigi lampunya langsung nyala, pake relay ato sistem apalah… kayanya peraturan ini di jepang udah lama tuh di pake, inget gak film satria baja hitam, jaman kita SD dulu kan jagoannya si kotaro minami naik motor CBR siang siang juga lampunya nyala terus… hahahahaha…. (sory ngawur)…
intinya cuma mau kurang kan angka kecelakaan kan…yah gampang,biar lampu motor ga nyala asalkan cara utk mendapatkan SIM di perketat kan macam..misalnya..uji tes mata/semua peraturan d jalan/sekali gagal langsung d tolak…
klu skrg ini cuma RP250.000 sudah bisa dapt SIM tanpa d uji..g mana mau mengurangi angka kecelakaan…
saya kata begitu sebab saya pernah ambil SIM d malay..sekolah 2-bln bagi sim motor N 3-bln bagi SIM mobol..baru kita d tes selama seminggu..
SAYA JAMIN..asalkan jangan korupsi lagi..ada uang ada SIM..!!! hahaha
Setuju banget sama DRL ini.
Biar dikata kaya alien…yg penting kita lebih peduli…
Bisa beli motor kok gak bisa beli lampu seh…paling 2 taon sekali belinya…hehehe
thx artikel.na bs bwt tmbahan materi bwt karya ilmiah saya
saya setuju dengan program ini.
tapi saya geli membaca komentar, bahwa kalau mengambil listrik dari spul,aki atan battery, bukan pemborosan energi/bensin.
untuk memutar magnet penghasil energi listik di spul, dibutuhkan energi yang diambil dari crankshaft. dan energi di crankshaft berasal dari pembakaran bensin. beban putar adalah berbeda antara saat magnet berputar dan energi listrik tidak dipakai dengan saat dipakai
Yg namanya usaha2 utk menunjang keselamatan itu harus didukung. Tapi selama ini, biker2 yg jelas2 mengabaikan keselamatan dirinya apalagi orang lain tidak ditindak. Seperti tidak pakai spion, atau spion yg asal, lampu rem putih menyilaukan, knalpot diberisikin dll
ini saya setuju sekali dengan program DRL ini….
mohon para pengendara motor tidak merasa didiskriminasikan karena ini juga untuk keselamatan kita dan juga para pengendara motor….
pikirkan juga orang-orang yang dekat dengan anda (cth: keluarga)….
ini bertujuan untuk mengurangi kecelakaan bukan menghilangkan kecelakaan karena kemungkinannya sangat kecil sekali…
dan sudah terbukti bahwa angka kecelakaan berkurang berkat DRL ini. kenapa ditolak jika sudah terbukti….
dan untuk para pengendara sepeda yang merasa dirinya didiskriminasikan, itu sama sekali tidak benar. malah sudah ada jalur khusus untuk roda 2 (kurang apalagi coba?? masa dikasih hati minta rempelo??). bahkan sempet juga aparat penegak hukum pernah bagi bagi helm untuk pengendara sepeda motor (mobil dibagiin apaan coba?? masa masih kurang??). saya sangat menghargai para pengendara yang mengutamakan keselamatan. utamakan keselamatan ini bukan berarti harus jalan pelan dan menghalangi pengendara lain yg mau lewat, tetapi bermakna waspada baik berkenndara lambat maupun cepat.
setuju…biar sering ganti lampu motor yang penting selamat sampai tujuan….
artikel yang sangat berguna. mohon ijin ngelink pak.
trims.
Bagus banget artikelnya mas. Sebagai tambahan, lebih banyak lagi riset yang mengatakan bahwa DLR itu positif dan mengurangi jumlah kecelakaan.
http://safetyridingcourse.com/?p=139
Salam.
Terima kasih atas ijinnya MAs Saft..
http://kraksaan.com/nyalakan-lampu-di-siang-hari.html
mau nyala mau mati, kalo sopirnya geblek juga bakalan ketabrak
saya setuju banget nih yang beginian..meningkatkan keamanan berkendara..
si Samarinda baru aja disosialisasikan tentang Light On ini..
ah biasa aja, buktinya saya ga pernah kecelakaan tuh
yg kecelakaan mah dah takdir coy.. heheheh
lg apes aja
hati2 dengan omongan anda bung, udah kecelakaan baru nyesel ntar
ah, males…..
ntar sering ganti lampu coy
hehehe
yang perlu kita galakan adalah kesadaran diri sendiri, nunggu peraturan mah lama. kebiasaan saya(kalo dah biasa, biasanya kita akan otomatis melakukan), saya akan menyalakan lampu ketika masuk jalan utama siang maupun malam, tujuannya supaya mobil, truk, bus dll tau keberadaan posisi motor saya, apalagi kalo kita suka turing luar kota yang biasanya kecepatan rata2nya 80km/jam, jadi bukan buat gaya gayaan ato disuruh pak Polisi!
Bagus juga sih program DRL dari Pemerintah. Tapi menurut saya kurang efektif juga dengan adanya program DRL, karna dengan DRL pengguna sepeda motor di Indonesia cendurung merasa pemilik jalan, mentang2 lampu nyala, kendaran yg geraknya tak sefleksibel sepeda motor (mobil misalnya), cenderung mengalah, apabila melihat pengendara motor yg tidak punya sopan-santun (zig-zag) melintas di dekatnya, jika terjadi kecelakaan antara mobil dan motor, yang tekor banyak tentu yg punya mobil, iya kalo itu mobilnya, kalo cuma sopir kasihan dunk, parahnya lagi byk pengendara motor belok dgn cara memotong jalan pengendara lain, masih byk juga kita jumpai pengendara motor belok tanpa sein dengan kecepatan tinggi. kebanyakan pengendara motor di indonesia ya spt itu. kita ga perlu munafik, kalo kita bisa punya SIM walo tanpa melewati uji standart kepemilikan SIM yg dimiliki oleh kepolisian. Jadi saran saya perbaiki dulu aparat yang bertugas di bagian pengurusan SIM, karena di sini cikal bakal semrawut jalan raya kita
Boss Saft, Bagus2 aza sih menurut saya kalao tujuannya ke arah positif.., Btw.., Draft UU menyalakan lampu siang hari itu ada gak point yg menjelaskan/ memerintahkan bahwa lampu yg menyala harus lampu utama? bagaimana kalo kita pake lampu senja misalnya? thx
ya setuju aja kalau benar – benar bisa menekan angka kecelakaan, akan tetapi kalau kita lihat balik, angka kecelakaan dikarenakan kurang sadar berlalu lintas, yang jelas banyak yang seperti valentino rossi aja, bener gak??? dan juga jangan terus dengan adanya undang – undang tersebut menjadikan lahan tilang karena celah untuk ini banyak sekali, mengingat kebiasaan warga kita mematikan lampu siang hari
menghina ciptaan Tuhan:matahari yang terang benderang.diskriminatif, karna speda motor yang harus nanggung kwajiban.sbaiknya koreksi mata pngemudi, koreksi perilaku berkendaraan kita.jaga jarak,jangan pakai kaca mobil rayben biar lebih jelas ngliat kendaraan lain, jangan nglamun dsb
wah gara2 org kaya beginilah indonesia susah maju, pikirannya sempit, baca donk diatas, diluar negeri sudah dari tahun 1960 diterapkan, dan bukan motor saja tetapi mobil juga!!
baca tuh artikel kenapa harus pakai kaca mata gelap kalau siang hari, katarak tuh kalau sudah tua terlalu sering kena cahaya matahari!!